Notulensi Diskusi Introvert
“Anak Juga Manusia”
Oleh: Aqiel Ajiz Alfaris, S.Sos.
Sabtu, 10 Oktober 2020
Profil Narasumber
Nama :
Aqiel Ajiz Alfaris, S.Sos
Tempat / tanggal lahir :
Jakarta, 12 Juli 1997
Domisili :
Surabaya
Pendidikan : S1 Bimbingan Konseling Islam
Pekerjaan / kegiatan : Guru BK SD Mumtaz (Sekolah Multitalenta)
Motto :
Setia, Berani, Sejati, dan Peduli untuk keluarga
Sesi Pemaparan Materi Oleh Narasumber
Apa itu bimbingan konseling? Seberapa penting untuk anak?
Menurut saya tentang Bimbingan Konseling bagi anak usia dini adalah proses di mana seseorang konselor anak memberikan bimbingan mengenai berbagai aspek perkembangan pada anak usia dini seperti perkembangan intelektual, sosial-emosional, moral dan agama.
Apapun yang besar urgensinya, bimbingan konseling pada anak usia dini sangatlah dibutuhkan. Karena di lapangan banyak anak yang memiliki potensi intelektual yang tinggi, tetapi sangat kurang untuk sosial-emosionalnya seperti berempati dengan anak-anak yang lain, menjalin kerjasama tim, dan lain-lain. Selain itu juga kurang akan moral dan agamanya. Sehingga ketika beranjak ke masa remaja awal. Biasanya anak ini menjadi pribadi yang sering membuat kegaduhan, tidak menurut akan peraturan di dalam rumah, sekolah, hingga masyarakat. Oleh karena itu bimbingan konseling perlu diberikan pada anak sedini mungkin.
Masalah apa yang biasanya merusak anak kecil?
Nah, mengenai masalah yang sering dibaca oleh anak. Di sini saya akan membaginya menjadi 4 macam, antara lain:
1. Masalah fisik:
biasanya masalah berasal dari bawaan orang tua atau didapat ketika anak baru. Adapun batasannya seperti: Gangguan fungsi panca indera, gangguan fungsi alat gerak, kesehatan, dan lain-lain.
2. Masalah psiskis: permasalahan yang didapat dari pola asuh yang kurang tepat dari orang tua. Semisal: orang tua terlalu sering marah, tidak mau mendengarkan jawaban anak, sering meremehkan anak atau mengejek. Sehingga perasaan yang ditimbulkan anak menjadi pribadi senang., Cengeng (mudah nangis), membangkang, dan lain-lain.
3. Masalah sosial: permasalahan psikis anak belum dapat membantu dengan baik, maka yang akan merambat ke dunia sosialnya. Tak jarang kita temui anak itu agresif pada agresif karena perkara sepele. Lalu, ada anak yang kurang mampu beradaptasi di sekolah sehingga ia duduk sendiri termenung tanpa seorang teman dan juga anak yang kalau diperintah guru untuk tampil ia akan malu bahkan sampai menangis di depan umum. Maka dari itu, masalah sosial merupakan keberlanjutan dari masalah psikis yang belum tertuntaskan.
4. Masalah belajar: Masalah ini lebih spesifik tentang masalah masalah pada fisik. Biasanya untuk masalah belajar ini, tergantung pada kemampuan intelektual yang anak punya. Apakah ia termasuk kategori superior
(diatas rata-rata), moderat
(rata-rata) atau inferior (dibawah rata-rata). Dan hal ini juga perlu diperhatikan oleh orang tua, baik gizi yang diberikan pada anak, pola asuh orang tua, dan pola pendidikan yang tak terkalahkan. Agar masalah yang anak punya dapat diatasi dengan efektif dan benar.
Manusia adalah makhluk paling kompleks yang pernah diciptakan tuhan.
Bagaimana peran dan sikap orang tua dalam pendidikan buah hati?
Peran orang tua dalam pendidikan adalah kunci anak untuk berhasil dalam belajarnya. Akan tetapi pendidikan yang dimaksud bukan sekedar orang tua memberikan kelas tambahan (Les privat) untuk pembelajaran sekolah. Akan tetapi, orang tua juga peka terhadap minat bakat anak, seperti mendukung anak yang mengikuti kelas melukis, bermain musik dan lain-lain. Dan tak kalah penting dari pendidikan anak adalah orang tua membimbing anak untuk mengamalkan agama atau religiusitas yang konsisten dan benar. Karena dengan menanamkan benih agama yang baik, anak akan menjadi pribadi yang mengenal Tuhannya, peduli akan lingkungan sekitar (hewan dan tumbuhan), berempati pada sesamanya dengan membantu teman yang sedang sulit dan lain-lain.
Bagaimana peran guru BK dalam menyikapi anak-anak yang membangkang?
Dari sisi peran guru bimbingan konseling dalam menyikapi anak-anak yang tumbuh sebagai seorang pembangkang, adalah guru BK tetap mengayomi dan mengamalkan semboyan yang diberikan oleh Ki Hadjar Dewantara : “Ing ngarso dinyanyikan tulodho, ing madyo mangun karso tut wuri handayani”yang berarti, “Di depan seorang pendidik harus bisa menjadi teladan di tengah murid, pendidik harus memberikan ide juga wawasan, dan di belakang seorang pendidik harus dapat memberikan motivasi (motivasi)”. Mengapa seperti itu? Karena semua anak pada kenyataan yang benar (suci) yang menjadi pribadi yang kurang baik adalah lingkungan sekitar (keluarga dan kehidupan sosialnya). Oleh karena itu objek wisata yang hanya sekedar permasalahan pribadi si anak, tapi juga menyakut pola asuh orang tua dan pola pergaulan anak.
Apa saja kiat-kiat untuk mengasuh dan mendidik anak demi terciptanya karakter anak?
Untuk para Ayah-Bunda, dan calon Ayah-Bunda. Berikut saya memberikan kiat-kiat mendidik anak menjadi pribadi yang baik dan berkarakter.
1. Menjaga atau memperbaiki kualitas pola komunikasi pada anak
Dengan memperbaiki atau memperbaiki kualitas komunikasi antara anak dan orang tua. Akan meningkatkan hubungan yang intim di antara diakhiri, orang tua akan lebih mengerti kebutuhan anak dan sebaliknya, anak akan mengerti bagaimana cara untuk menghargai orang tua mereka.
2. Memperbaiki pola asuh yang kurang tepat
Apabila selama ini Ayah-Bunda sering berkembang biak pada anak, mengengkang kebebasannya untuk bereksplorasi, kurang memotivasi anak, dan bahkan enggan mengajari ilmu agama. Maka segera ubahlah semua itu. Karena anak itu ibarat kertas kosong putih yang polos, diisi ulang gambar atau cerminan buruk dari kedua orang orang tuanya. Maka sudah dipastikan, ketika sudah beranjak dewasa ia akan menjadi pribadi yang kurang dipandang baik oleh keluarga besar ataupun masyarakat.
Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan pertama
Nama : Prii
Domisili : Pemalang
Pertanyaan : Bagaimana Cara mengedukasi Orang Tua dan Anak-anak Supaya mereka (Orang Tua) can Menjadi Teladan yang Baik Bagi Anak?
Jawaban : Cara mengedukasi orang tua, haruslah dengan pendekatan hati ke hati, mengapa? Karena mungkin di sini, ada yang memiliki orang tua bersifat temperamental, sudah pasti harus menggunakan pendekatan yang sangat halus dan tidak mengatur mereka. Karena dengan pendekatan hati ke hati bisa memantau orang tua tersebut. Saya pernah berbincang pada salah seorang murid, yang menurut dia mamahnya itu galak, suka marah-marah. Tapi, saat itu saya memberikan masukan kepada murid saya untuk tetap berprasangka baik pada mamahnya itu. Dan di beberapa waktu, saya meminta dipertemukan oleh mamahnya. Rupanya ada alasan tertentu mamah sering tempramen, karena ada permasalahan dengan suaminya yang bercerai dengannya. Dan mamah membesarkan seorang diri. Maka dari itu, semuanya butuh proses pendekatan dari hati ke hati.
Pertanyaan kedua
Nama : Aliya
Domisili : Tangerang
Pertanyaan : Bagaimana cara masuk diri sendiri kalau sedang stres ingin cerita ke orang tua tapi takut, karena ujung-ujungnya akan dimarahi atau tidak dipedulikan?
Jawaban : Saya tahu, bahwa kejujuran itu pahit rasanya. Akan tetapi, sebuah kebohongan yang akan lebih pahit rasanya bila sudah terungkap.
Sebenarnya kita tidak perlu risau dengan tanggapan yang terjadi, ketika kita menceritakan permasalahan kita kepada orang tua. Justru kita harus risau jikalau masalah yang selama ini kita sembunyikan dari orang tua itu mengendap pada fikiran kita dan sampai masuk kealam bawah sadar kita. Dan itu berbahaya, kalau menjadi kebiasaan, itu akan merusak psikologismu. Kalau dirasa sedang stres, kamu berarti sedang membutuhkan teman yang bisa mendengarkan masalahmu dengan baik, yaitu orang tua atau bisa juga sahabat yang tidak percaya.
Pertanyaan ketiga
Nama : Hesti
Domisili : Nganjuk
Pertanyaan : Kalau sudah terlanjur si anak yang nakal dan tidak bisa diatur, itu penanganannya seperti apa, ya, Kak?
Jawaban : Tetap dibimbing dan didoakan, mengapa? Karena setiap manusia pasti ada masalah masing-masing. Tapi, yang perlu diingat ayah-bunda, kita jangan sampai melabeli anak yang kita sayang dengan panggilan “anak nakal”. Karena dari label tersebut, termasuk doa yang negative dan akan selalu di kenang oleh si Anak. Maka dari itu anak di bimbing dengan kasih sayang yang tulus, dan didoakan yang positif dikala Ayah-bunda pilih.
Pertanyaan keempat
Nama : Dinda Putri Abadi
Domisili : Gresik
Pertanyaan : Kalau misalnya anak kita adalah seorang introvert yang kurang bisa memberi tahu apa masalah yang dihadapinya, sebagai orang tua dan juga sebagai guru BK, bagaimana cara kita untuk dapat membuat anak tersebut bisa terbuka dengan kita?
Jawaban : Tetap dengan pendekatan hati Ayah-bunda. Karena anak yang cenderung introvert memang pemilih pemilih kepada orang yang mau diajak untuk bisa menyelami kehidupannya. Tetap sabar untuk menjadi sahabat yang selalu ada, tetap dengarkan keluh kesahnya, dan tetap memotivasinya dikala turun . Insyaallah, pasti nanti bisa klop.
Saya mengutip dari pendapatnya seorang filsuf terkenal, yaitu Aristoteles. “Bahwa manusia merupakan hewan yang berakal sehat, berpikir, dan bertindak berdasarkan akalnya. dan ketahuilah akal manusia itu di kendarai oleh hati nuraninya. Bila baik, maka pikiran yang ada di akalnya pun akan baik pula, dan bila buruk hatinya, sudah dipastikan pola pikirnya juga akan buruk. ”
Pertanyaan kelima
Nama : Salma
Domisili : Magelang
Pertanyaan : Bagaimana dampak pada psikis anak jika seorang tua selalu memarahi dan mematahkan semangat anak ketika ingin menyerang orang tua dan juga kemungkinan yang akan terjadi jika terus berlanjut?
Jawaban : Wah, ini yang harus dihindarkan oleh para orang tua, karena kalau terbiasa seperti ini, anak kelak akan menjadi pribadi yang sering merasa tidak aman , tidak percaya diri, menutup dari lingkungan sosial. Kasihan belakangan anak yang tersayang, menjadi anak yang sering termenung di pojok kelas tanpa seorang teman. Dimohon untuk para orang tua untuk sedikit perubahan pola komunikasi yang seperti ini, yah. Semangat, ayah-bunda!