Diskusi Introverted"
"Gender Equality : Berbeda tapi Setara"
Oleh : Auliah
Sabtu, 05 Desember 2000
Profil Narasumber :
Auliah, gadis kelahiran Watampone, 03 Juli 1999 ini pernah menempuh pendidikan S1 dan kini sedang aktif menempuh pendidikan S2.
Gadis yang memiliki hobi menulis dan membaca ini pernah menjadi salah satu perwakilan Indonesia untuk _Asia Pacific Future Leader Conference_ 2017 di Malaysia.
Motto hidupnya ialah _"today i will not stress over the things i can't control."_
Auliah biasa berselancar dan menginspirasi di Instagram @auliahkhn.
Dikalangan masyarakat banyak yang menjadi bagian pro dan kontra terhadap kesetaraan gender serta sebagian orang yang mungkin masih salah paham tentang arti dari kesetaraan gender.
Definisi kesetaraan gender itu apa? Serta apa saja contohnya?
Disini terlebih dahulu, aku mau menegaskan kembali ya, bahwa setara itu bukan berarti sama. Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:
setara/se•ta•ra/ n 1 sejajar (sama tingginya dan sebagainya): kedua kakak beradik itu duduk ~; 2 sama tingkatnya (kedudukannya dan sebagainya); sebanding: pilihlah istri yang ~ denganmu; 3 sepadan; seimbang: tenaga yang dipergunakan harus ~ dengan hasilnya;
sama 1/sa•ma /a 1 serupa (halnya, keadaannya, dan sebagainya), tidak berbeda; tidak berlainan: pada umumnya, mata pencaharian penduduk desa itu — saja; kedua soal itu — sulitnya;
Memperjuangkan kesetaraan gender bukan berarti menuntut perempuan untuk menjadi sama dengan lelaki ya, tetapi mendukung perempuan dan lelaki agar mendapat kesempatan untuk ada dalam posisi yang sejajar.
Mendobrak konstruksi sosial bahwa lelaki “dari sananya diberi kelebihan sehingga hanya dia yang layak jadi pemimpin”. Ini memberi laki-laki stigma dan beban juga. Harus selalu memimpin, enggak boleh nangis, harus maskulin, harus melindungi perempuan.
Ini abad ke-21. Perempuan dan lelaki bisa sama-sama jadi pemimpin, bisa berbagi pendapat dan beban, bisa berada dalam spektrum femininitas-maskulinitas, harus pula bisa saling melindungi.
Gender Equality itu bikan berarti LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SAMA. Melainkan HAK, TANGGUNG JAWAB, dan KESEMPATAN yang diberikan ke mereka tidak bergantung pada jenis kelamin mereka. Gender Equity berarti PERLAKUAN ADIL ke laki-laki dan perempuan TERGANTUNG KEBUTUHANNYA. Termasuk di dalamnya adalah perlakuan yang sama atau bahkan berbeda NAMUN dianggap SETARA dari segi HAK, BENEFIT, KEWAJIBAN dan KESEMPATAN.
Contoh kesetaraan gender itu: saat perempuan sudah bisa menjadi pemimpin tanpa takut dinyinyirin, saat laki-laki bisa menangis tanpa takut dinyinyirin.
Bagaimana sejarah munculnya konsep dan ide kesetaraan gender?
Konsep kesetaraan gender pertama kali bermula dari tulisan seorang filsuf abad 18 bernama Mary Wollstonecraft. Dalam karyanya yang berjudul A Vindication of the Rights of Women, Mary Wollstonecraft menginspirasi gerakan dan perjuangan perempuan hingga berlanjut pada abad ke-20 dimana kaum perempuan berhasil mencapai hak pilihnya (hak politik). Dalam bukunya tersebut, ia menuliskan bahwa perempuan secara alamiah tidak lebih rendah dari laki-laki, tetapi terlihat seperti itu hanya karena mereka tidak memperolah banyak pendidikan. Ia mengusung supaya laki-laki dan perempuan dianggap setara dalam setiap dimensi kehidupan, terutama dalam hal sosial-politiknya.
Istilah kesetaraan gender memang dipopulerkan di eropa, namun sebetulnya konsep kesetaraan gender bukanlah hal baru di indonesia. Bahkan konsep ini sudah dikenal sejak zaman nusantara.
Dalam bukunya Perempuan Jawa: Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat Abad VIII-XV, arkeolog Titi Surti Nastiti menulis bahwa pada abad ke-8 hingga abad 15, perempuan memiliki peran dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Di bidang politik, jabatan pemerintahan bisa diduduki oleh laki-laki maupun perempuan, itu mulai dari raja/ratu, putra/putri mahkota, pejabat hukum, pejabat keagamaan sampai pejabat desa.
Ratu Shima dari kerajaan Kalingga abad ke-6 M misalnya, ia dikenal sebagai pemimpin yang menjunung tinggi kejujuran dan hak orang lain. Periode keemasan kepemimpinan perempuan terjadi pada masa Kerajaan Majapahit (1293-1527) di wilayah Jawa Timur. Kerajaan terbesar di Jawa ini mungkin dianggap mencapai puncak kejayaannya lewat ekspedisi Mahapatih Gadjah Mada dalam menguasai Nusantara, di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk. Namun selama pemerintahan Hayam Wuruk, wilayah kekuasaan Majapahit banyak dipimpin oleh perempuan.
Keadilan dan kesetaraan gender di Indonesia juga dipelopori oleh RA Kartini sejak tahun 1908. Perjuangan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam bidang pendidikan dimulai oleh RA Kartini sebagai ujud perlawanan atas ketidak adilan terhadap kaum perempuan pada masa itu. Dalam perjalanan selanjutnya, semangat perjuangan RA Kartini ditindaklanjuti pada tangal 22 Desember 1928 oleh Kongres Perempuan Indonesia yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu.
Selanjutnya, sekitar tahun 1970-1980an, benih-benih gerakan perempuan kontemporer mulai bersemi di kalangan menengah intelektual, dikenal dengan sebutan Lembaga Suadaya Masyarakat (LSM) atau Non-Goverment Organization (NGO). Kalangan ini mulai menjalin kontak dan memperluas lingkup gerakan hingga ke tingkat internasional. Dan perjuangan kesetaraan gender tersebut masih bisa kita lihat sampai sekarang.
Menurut Narasumber, seberapa pentingkah kesataraan gender itu?
Kesetaraan gender itu penting sekali karena menyangkut hidup semua orang. Tapi, kita baru bisa mengetahui seberapa pentingnya itu jika kita mempelajarinya. Ini tidak hanya berlaku untuk perempuan saja, tetapi juga untuk laki-laki.
Karena dengan mempelajari kesetaraan gender, kita jdi lebih bisa adil sejak dalam pikiran. Mengakui bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara.
Apakah saat ini di Indonesia sudah terealisasikan kesetaraan gender?
Apakah kesetaraan gender sudah terealiasasi? Kita sudah melihat perempuan sudah bisa sekolah, sudah bisa bekerja, jadi itu sudah cukup bukan?
Nyatanya tidak. Masih ada banyak ketidaksetaraan gender yang terjadi. Dalam pendidikan misalnya, perempuan selalu diberikan perkataan, “Jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti susah dapat suami.”.
Dalam hal politik, memang kita sudah pernah punya presiden perempuan. Tapi masih ada banyak halangan, masih banyak hal yang menghalangi perempuan untuk sepenuhnya bisa berdaya.
Misalnya, perempuan yang jadi presiden, atau jadi menteri selalu dipertanyakan kemampuannya, “Apakah dia mampu?”
Skeptis itu sudah menjadi halangan sehingga jadi beban mental untuk perempuan.
Kesetaraan gender tidak hanya bisa terwujud kalau perempuan tersebut sudah diberikan kesempatan. Ini juga menyangkut tentang cara pandang dan pola pikir. Bukan cuma perempuan yang harus cerdas, laki-laki juga 🤗
Sesi Tanya Jawab :
1️⃣
Nama : Amaliyah
Domisili : Cirebon
Pertanyaan : Izin bertanya, kak apakah kesetaraan gender itu bertentangan dengan agama?
Narasumber : Kesetaraan gender itu bertentangan nggak sih dengan agama?
Oke, yang bisa aku jawab disini soal islam ya. Karena aku islam hehe nanti kalau bicarain agama lain aku malah sok tahu 🙈
Oke, perdebatan apakah konsep ini bertentangan dengan islam atau tidak emang udah jadi perdebatan dari lama.
Beberapa pihak meyakini keterataan gender dan islam adalah sebuah kontradiksi karena agama Islam sendiri dianggap menempatkan laki-laki sebagai gender yang lebih tinggi derajatnya. Namun pihak-pihak lain mengatakan bahwa Islam pada dasarnya menghormati perempuan; dan bahwa masalahnya terletak pada interpretasi patriarkal dari teks keagamaan.
Secara global, gerakan feminisme Islam telah mendukung advokasi hak-hak perempuan, kesetaraan gender, dan keadilan sosial yang didasarkan pada nilai-nilai Islam. Gerakan ini berakar dari Islam, namun tetap mempertimbangkan juga wacana kesetaraan gender sekuler, Barat, atau non-Muslim.
Beberapa tokoh kesetaraan gender Islam terkenal adalah penulis asal Maroko Fatima Mernissi, peraih Nobel Peace Prize Shirin Ebadi dari Iran, dan para akademisi Islam asal Amerika Serikat, yakni Leila Ahmed, Asma Barlas, dan Amina Wadud.
Di Indonesia sendiri, ada figur-figur seperti mantan ibu negara Shinta Nuriyah, yang berupaya menafsirkan ulang Kitab Kuning agar lebih inklusif terhadap perempuan; pakar fikih Siti Musdah Mulia; Maria Ulfah Anshor, aktivis hak-hak reproduksi seksual perempuan; ulama feminis Husein Muhammad.
*Bagi pihak yang merasa bahwa kesetaraan gender dan Islam saling bertentangan, mereka perlu memahami bahwa Islam memuliakan pengetahuan dan perempuan, yang kemudian dapat dilihat sebagai inti dari kesetaraan gender itu sendiri.*
Kesetaraan gender memiliki stigma negatif di kalangan Muslim sehingga muncul kesalahpahaman mengenai konsep tersebut. Ketika masyarakat Indonesia menjadi semakin konservatif, kesetaraan gender kemudian dipandang oleh banyak pihak sebagai konsep yang kebarat-baratan dan gerakan yang sengaja diciptakan untuk menghancurkan keimanan umat Islam.
Kesetaraan gender dianggap tidak cocok dengan budaya Indonesia. Kesetaraan dianggap melawan kodrat, benci laki-laki, pemberontakan perempuan terhadap kewajiban rumah tangga, dan penolakan terhadap hukum syariat.
Padahal, kesetaraan gender muncul dalam berbagai spektrum. Sifatnya multikultural dan memiliki banyak aliran yang berbeda. Yang jika dilihat secara keseluruhan, akan menunjukkan ruang untuk kesetaraan gender yang ramah dengan islam.
Yang menjadi esensi dari risalah (naskah suci) Islam adalah tauhid (konsep keesaan Tuhan). Ini adalah perjuangan untuk memanusiakan manusia, untuk untuk menciptakan makhluk bermoral dengan menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban, keadilan, kesetaraan, kebebasan, perdamaian, dan kesejahteraan
Islam juga mengajarkan pentingnya menghormati dan menghargai manusia lainnya, meminta laki-laki maupun perempuan untuk menjunjung tinggi martabat manusia untuk menjadi khalifah fi al-ardh atau agen moral. Sementara itu, amar makruf nahi munkar (memeluk kebajikan, menolak kebatilan) adalah upaya-upaya transformasi dan humanisasi.
2️⃣
Nama: MULYA LESTARI
Domisili: Lombok
Pertanyaan:
Kita tentu perlu mengedukasi diri kita tentang gender equality lalu bagaimana dengan masyarakat, bagaimana cara kita mengubah mindset masyarakat agar aware ttg kesetaraan gender ini kak? Seenggaknya orang terdekat kita?
Terimakasih 🙏
Narasumber : Untuk mengubah mindset masyarakat, pertama-tama kita harus mengubah mindset kita sendiri.
Mempelajari dulu hal itu dengan baik, rajin diskusi sama yang lebih paham, nggak cepat emosi kalau berhadapan dengan yang belum paham, selalu mengedepankan komunikasi dulu.
Cara mengkomunikasikan itu dengan orang terdekat ya mulai dulu ajak ngobrol soal hal-hal yang ringan semisal, “kira-kira kenapa ya, anak cowok itu selalu dilarang nangis tapi kalau anak cewek nggak dilarang?” Gituu
3️⃣
Nama : Maharani
Domisili : Jayapura
Pertanyaan :
Izin bertanya kak, maaf jika out of topic. Perihal kesetaraan gender di beberapa hal mungkin bisa terbayang pelaksanaannya seperti wanita yang menjadi pemimpin. Bagaimana aplikasi kesetaraan gender dalam hubungan dimana masih banyak dari kita sebagai wanita tetap ingin hubunggannya di lead oleh pria.
Terima kasih kak
Narasumber : Dalam mengenal kesetaraan gender, kita mengenal istilah relasa setara.
Antara lelaki dan perempuan yang akhirnya memutuskan untuk berkomitmen, mereka sebaiknya memiliki relasi yang setara.
Tapi gimana tuh jadinya kalau ada perempuan yang lebih suka kalau lelakinya yang jadi pemimpin? Nggak apa-apa juga.
Selama disepakati kedua belah pihak, nggak ada yang melarang kok. Yang menjalani hubungan tersebut juga happy kan?
Ini juga sama halnya kalau perempuan minta tolong buat diangkatin barangnya karena berat lalu lelaki tersebut mau ngangkatin barangnya. Ya nggak apa-apa. Tidak ada unsur pemaksaan disini bukan?
