Diskusi Introverted Room
Lingkungan Hidup dan Ecopreneur
Oleh: Ramadhani Jaka Samudra
Minggu, 31 Januari 2021
Profil Narasumber:
Ramadhani Jaka Samudra. Mahasiswa Biologi Universitas Airlangga, dan owner hijauberseri.id.
Apa sih lingkungan hidup itu?
Baik di awal ini kita membahas mengenai lingkungan hidup dulu.
Ilmu yang mempelajari lingkungan hidup biasa dikenal dengan ekologi. Berasal dari dua kata yakni ekios dan logos. Ekios adalah rumah dan logos adalh ilmu. Rumah disini adalah alam sebagai tempat tinggal makhluk hidup. Didalam alam ini berlaku sistem yang mengatur kehidupan antar organisme, terdapat hubungan timbal balik, hubungan saling butuh membutuhkan, hubungan saling lengkap melengkapi, dan hubungan saling menyempurnakan.
Di alam terdapat 3 unsur yang saling berperan. Yakni abiotik (benda mati) seperti suhu, keasaman, kelembapan udara dst bisa di ukur dengan parameter fisika dan kimia. Ada juga biotik (makhluk hidup) seperti flora dan fauna. Selain itu ada culture yang berada di tengah2 kedua unsur tersebut. Karena adanya hubungan timbal balik, maka jika salah satu unsur rusak maka akan menimbulkan kerusakan pada unsur lainnya dan jadi mata rantai.
Lingkungan hidup selalu memiliki kemampuan untuk melakukan recovery diri. Namun jika kerusakan itu melampaui batas kemampuan maka alam akan rusak. Itu dinamakan hukum toleransi oleh shelford. Dimana alam dapat mentolelir kerusakan, tapi ketika melampaui batas toleransi maka alam akan sakit hingga rusak.
Lalu, apa saja permasalahan yang terjadi dalam lingkungan hidup, khususnya di negara kita sendiri?
Jika saya rangkum indonesia adalah negara megabiodiversity. Jadi sangat beraneka ragam makhluk hidup dan alam indonesia. Bahkan tidak dijumpai di negara manapun.
Namun, ketika kita lihat kondisi alam sekarang sudah sangat rusak. Dalam beberapa tahun terakhir berbagai bencana melanda negeri. Itu bukan sekedar takdir tuhan, tapi ada campur tangan manusia yang merusak alam. Banjir yang telah melanda negeri bukan sekedar karna curah hujan, tapi berkurangnya ruang terbuka hijau, pendangkalan sungai, dan lain sebagainya
Pencemaran kini juga berada di ambang batas. Sampah berton ton menumpuk tanpa tau bagaimana cara mengelolanya. Belum lagi sampah yang dibuang sembarangan di sungai dan laut. Plastik - plastik itu akan terdegradasi menjadi komponen kecil atau mikroplastik. Organisme air tidak tau bahwa itu adalah plastik, mereka mengira itu plankton dan memakannya. Hingga manusia memakan ikan yang tercemar mikroplastik
Terkadang organisme laut juga menganggap bahwa kantong plastik adalah ubur - ubur yang akan di jadikan bahan makanan. Beberapa waktu lalu saya sempat riset juga di sungai bengawan Solo.
Ini adalah ikan Wader. Saya ambil random di sungai bengawan solo di DAS bojonegoro. Setelah di bedah organ pencernaannya ternyata terdapat mikroplastik. Dan ikan ini dikonsumsi warga serta dijual di pasar.
Yang kanan warna biru itu mikroplastik jenis fiber dan disampingnya adalah Fitoplankton. Ukurannya hampir sama, jadi hewan salah makan akibat dari ulah kita.
Selain itu, laju deforestasi indonesia juga tinggi. Salah satunya adalah dilakukan alih funsi lahan hijau menjadi industri. Selain itu industri ekstraktif banyak yang ilegal seperti pertambangan. Hilangnua environmental ethics seperti melakukan amdal, tanggng jawab atas lingkunga mulai hilang. Kini bumi mengalami perubahan iklim, suhu makin panas, trumbu karang mati, emisi gas karbon tinggi hingga menyebabkan kutub es mencair.
Kalimantan adalah pulau yang padat dengan hutan, tapi nyatanya bisa banjir.Ini adalah salah satu dampak dari deforestasi atau gampangnya lahan hutan kita makin berkurang.
Keserakahan manusia juga menyebabkan penderitaan bagi manusia lainnya misal penggusuran. Oleh karena itu kini indonesia bisa dikatakan darurat agraria, karena banyak konflik agraria atau pertanahan yg tk kunjung selesai.
Industri ekstraktif seperti tambang sangat banyak, bahkan industri juga bisa menggusir lahan. Nah ini jadi permasalahan utama.
Banyak yang ngomong ketika kita membahas soal ekonomi tidak akan bisa sejalan dengan kelestarian alam. Tapi menurut saya ini kurang tepat. Nanti di akhir saya kasih tau. Di banyuwangi adalah 7 pegunungan yang memiliki potensi emas atau biasa disebut tumpang pitu oleh warga lokal. Ya kalau oleh industri pasti di eksploitasi.
Belum lagi tambang batu bara dan lain sebagainya.
Lantas, hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk menanggulangi dampak kerusakan lingkungan itu sendiri?
Karena ini adalah masalah yang sangat panjang maka kita harus cari tau dulu akarnya.
Setidaknya ada 3 hal yang menjadi penyebab. Diantaranya adalah kebijakan yang kurang tegas dari pemerintah, industri yang merusak alam dan kurangnya kesadaran masyarakat. Maka ada 2 cara untuk mengatasi yakni advokasi dan edukasi
Advakasi adalah langkah - langkah pendampingan yang ditempuh secara hukum. Mulai dari pengadilan hingga aksi jalanan menuntut keadilan bagi lingkungan.
Sedangkan edukasi adalah langkah pencerdasan kepada masyarakat. Ada banyak cara edukasi, misal mendirikan LSM, aktif kampanye lingkungan dll.
Tapi buat teman - teman yang merasa introvert juga bisa kok. Kalian bisa membuat tulisan - tulisan atau menjadi Ecopreneur. Menjaga lingkungan itu tidak bisa dikotomi antara introvert dan ekstrovert. Semua memiliki hak dan kewajiban sama untuk menjaga lingkungan Tinggal pilih cara mana yang paling mungkin kalian lakukan.
Tadi 'kan kita sudah bahas sedikit tentang lingkungan hidup, yaa, . Lalu, apa sih Ecopreneur itu?
Ecopreneur adalah suatu bisnis yang berorientasi untuk kelestarian lingkungan. Ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa bisnis dan kelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan.
Hal apa saja yang perlu kita persiapkan apabila ingin menjadi seorang Ecopreneur?
1. Analisis isu, kalian pilih isu mana yg jadi fokus. Misal isu pertanian, maka kalian dapat memilih bisnis pupuk organik, alat pertanian dan sejenisnya.
2. Analisis pasar, kalian harus memetakan kondisi pasar yang jadi tempat sasaran bisnis
3. Analisis produk, kalian hitung brapa modal, harga produksi, harga tetap, bep dst.
4. Produksi
5. Marketing, gunakan strategi pemasaran yang unik dan menarik
6. Evaluasi
TANYA JAWAB
1. Nama: Riris
Domisili: Nganjuk Jatim.
Peryanyaan:
Untuk jadi Ecopreneur cara menemukan dan menggaet pasar bagaimana ya kak?
Mengingat orang - orang cenderung abai ke masalah lingkungan.
Disamping itu juga butuh teknologi yang tidak murah untuk mengolah 'lingkungan' agar punya daya jual. Misal eco brick.
Dan untuk produk - proy yang organikpun juga lebih mahal?
Pun ketika ada program dari pemerintah misal jamban untuk ODF. Warga hanya disuruh untuk menyumbang tenaga, itupun masih tidak tertarik. Dan bisa kah Ecopreneur dijadikan pekerjaan yang utama?
Mohon solusinya kak. 🙏
Jawaban:
Menjawab pertanyaan mbak riris, sebelumnya terimakasih banyak atas pertanyaanya. Dan berkenan menyimak.
Pertama untuk menggaet pasar, kita butuh isu yang paling hangat dan jadi masalah bersama. Jadi kan bisnis kita seperi solusi untuk mengatasi masalah itu. Kemudian cari pasar, awali dengan jalin komunikasi dengan organisasi / komuntas lingkungan.
Namanya bisnis harus menekan biaya produksi biar tidak rugi. Mangkannya butuh analisis produksi. Misal pembuatan pupuk organik. Ada bahan tanah, kompos daun atau kotoran ternak, cocopit atau serat kelapa yang di haluskan, dan cairan em 4 untuk pekembang biakan mikoba. Untuk hemat, kalian bisa bisnis susu ternak dan manfaatkan kotorannya, bisa juga dengan mengumpulkan sampah daun secara mandiri. Semua bisa di siasati sebenarnya. Tinggal kita mau memulai atau tidak.
Bisa juga kok jadi pekerjaan tambahan. Kebetulan saya di mangrove center Tuban. Disini jual bibi, kompos dan tanaman hias. Sebulan minimal omset 30 juta. Keuntungan di gunakan untuk menanam mangrove ke berbagai daerah.
2. Nama: Enceng Mohammad Soleh
Domisili: Kabupaten cirebon
Pertanyaan:
Kak izin bertanya saya tinggal di cirebon yang mana dulu disini petani garam cukup makmur dari hasil garam namun sekarang penjualan garam dari Cirebon nurun drastis ditambah harganya juga sekrang cuman sekitar 300/Kg bagaimana kak sebagai anak muda peran / langkah apa yang sebaiknya saya lakukan?
Jawaban:
Untuk nelayan atau petani biasanya terjebak dalam permainan tengkulak. Mana mungkin garam yang jadi sehari - hari kehilangan pasar. Salah satu penyebab biasanya adalah tengkulak yang membeli dari petani atau nelayan degan harga murah dan menjual ke pasar dengan mahal. Untuk mengatasinya harus berdayakan mereka agar mandiri dalam marketing dan penjualan.
Untuk mengatasi masalah tersebut saya terinspirasi oleh shopee, tokopedia dan buka lapak. Saya sedang mengerjakan platform digital untuk petani dan nelayan agar bisa memasarkan melalui platform tersebut tanpa melalui tengkulak.
3. Nama: Muhammad Fachrizal Hamdani
Domisili: Surabaya
Pertanyaan:
Permisi kak ingin bertanya mengenai ecopreneur. Sebenarnya saya sudah memiliki bisnis yaitu produk custom. Tujuan awal saya membuat bisnis itu sebenarnya bukan ke ranah "Eco"-nya, melainkan hanya bisnis biasa. Tetapi setelah dipikir-pikir, disini saya menjual produk custom berupa tempat minuman, seperti berbagai macam tumbler dan termos.
Jadi, apakah produk tersebut termasuk dalam kategori "Eco"? Karena saya melihat tempat minum itu dapat menggantikan botol plastik sekaligus sedotan plastik juga.
Lalu pertanyaan kedua (jika diperbolehkan), bagaimana strategi marketing yang tepat untuk menjual produk "Eco" dengan kondisi pandemi Covid-19? Karena masyarakat sekarang lebih berfokus ke kebutuhan hidup khususnya pangan daripada memikirkan hal-hal yang berbau lingkungan.
Jawaban:
Itu termasuk juga, karena bagian dari zero waste. Tinggal dikembangkan jangan hanya tumblr. Coba kaos deh, buat distro alam atau apalah namanya. Pasar pertama sasar organisasi atau komunitas lingkungan sebagai eksistensi mereka dalam kegiatan.
Saat pandemi kebutuhan masyarakat memang kebutuhan pokok. Maka jangan menawarkan produk barang pada masyarakat. Produk barang bisa di tawarkan ke instansi atau lembaga. Coba tumblr itu custom dengan tulisan kampanye 3M, bahaya covid dan sejenisnya. Lalu tawarkan pada promkes (promosi kesehatan) di puskesmas. Mungkin pasar kalian akan berpindah dari masyarakat ke instansi. Justru lebih menguntungkan karena instansi kalau beli tidak hanya satu.



