Blue Hair Girl, Cute

Sunday, April 25, 2021

Notulensi IR: "Ramadan Adalah Bulan Al-Qur'an"

 

INTROVERT RAMADAN

Ramadan Adalah Bulan Al Qur'an

 Oleh: Ella Triana

Sabtu, 24 April 2021

 


 

 Profil Narasumber:

Ella Triana, mahasiswa semester akhir di Universitas Airlangga dan berdomisili di Jombang. Aktif  di lembaga dakwah kampus.

 

 Sejarah Turunnya Al Qur'an

Bila kita melihat dari firman Allah dalam Q.S Al-Qadr ayat 1-5 dan Q.S Ad-Dukhan ayat 3 menyebutkan turunya Al-Qur’an yakni pada malam mubarakah atau disebut dengan malam lailatul qadr. Yakni salah satu malam di bulan Ramadan yang pada malam tersebut telah dipenuhi berkah dan nikmat Allah yang tidak ternilai.

Kemudian, bagaimana proses turunnya Al-Qur’an? Proses turunnya Al-qur’an itu sendiri dibagi menjadi dua yakni:

Tahapan pertama Al-Qur’an turun dari Allah SWT dan disimpan di lauhul mahfuz.

Tahapan kedua dari lauzul mahfuz Al-Qur’an turun dan disimpan di Baitul Izzah atau langit dunia. Kemudian dari langit dunia inilah jibril membawa Al-Qur’an dan diturunkan kepada Rasullah ﷺ secara berangsur-angsur selama 23 tahun sesuai dengan peristiwa.

 

Proses Pembukuan Al Quran

 Pembukuan Al-Qur'an ini dibagi menjadi 3 periode:

 

Periode pertama, kita mulai pada masa Rasullah ﷺ para sahabat seperti Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab ditunjuk untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. media penulisan saat itu masih berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, dan potongan tulang-belulang binatang. penulisan Al-Qur’an pada masa Rasullah belum terkumpul menjadi satu mushaf hal tersebut disebabkan beberapa faktor, yakni:

Pertama,  tidak adanya faktor pendorong untuk membukukan Al-Qur’an menjadi satu mushaf mengingat Rasullah masih hidup disamping banyaknya sahabat yang menghafal Al-Qur’an dan sama sekali tidak ada unsur-unsur yang diduga akan mengangggu kelestarian Al-Qur’an.

Kedua, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, maka suatu hal yang logis bila Al-Qur’an baru bisa dibukkukan dalam satu mushaf setelah Nabi SAW wafat.

Ketiga , selama proses turunnya Al-Qur’an, masih terdapat kemungkinan ayat-ayat Al-Qur’an yang mansukh.

 

Periode kedua, pembukuan Al-Qur’an pada masa pemerintahan Abu Bakar as-Shiddiq. Saat itu  terjadi perang Yamamah yang mengakibatkan 70 penghafal Al-Qur’an di kalangan nabi gugur. Karena banyaknya penghafal Al-Qur’an yang wafat di medan perang Kemudian Umar ibn al-Khattab meminta khalifah Abu Bakar as-Shiddiq untuk melakukan pengumpulan Al-Qur’an. awalnya beliau ragu akan rencana pengumpulan Al-Qur’an karena saat Rasullah belum pernah melakukannya sebelumnya, namun hal tersebut diyakinkan kembali oleh Umar ibn al-Khattab. Kemudian khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq meminta Zaid Ibn Tsabit ( mantan juru tulis Nabi Muhammad ﷺ ) untuk menuliskannya dan menghimpunnya dalam satu mushaf.

 

Periode ketiga, pembukuan Al-Qur’an terjadi pada masa khalifah Ustman ibn Affan. Yakni ketika adanya keberagaman dalam cara membaca Al-Qur’an dikarenakan adanya perbedaan dialek antar suku yang berasal dari daerah yang berbeda-beda. Kekhawatiran inilah yang membuat Ustman ibn Affan mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standart tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan Utsmani yang digunakan hingga saat ini. bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan ( dibakar ). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an.

 

 

Pengertian Surah Makiyyah dan Madaniyah

Berdasarkan buku “Studi Al-Qur’an” karya muhammad Yasir, S.Th.I, MA dan Ade Jamaruddin, MA., Madaniyyah dan Makiyyah merupakan sifat nisbiyah yang berasal dari kata Makkah dan Madinah. dua unsur ini merupakan penamaan surah atau ayat dalam Al-Qur’an sesuai dengan turunnya. Misalnya surah yang diturunkan di Makkah merupakan surah-surah sebelum Nabi berhijrah disebut sebagai surah Makiyyah. Begitupun, dengan surah-surah yang turun di Madinah yakni ayat-ayat Al-Qur'an setelah Nabi hijrah dari makkah ke madinah yang sebut dengan surah Madaniyah.

 

Lalu, apa saja ciri-ciri surah Makkiyyah dan Madaniyyah?

Adapun ciri-ciri surah Makkiyyah selain diturunkan di Makkah yaitu :

1. Surah yang terdapat di dalamnya ayat Sajadah

2. Surah yang di dalamnya terdapat lafaz “Kalla” sekali-kali (tidak), demikian itu hanya terdapat pada bagian pertengahan sampai akhir Al-Qur’an.

3. Surah yang didalamnya terdapat kisah para Nabi dan umat masa lalu, kecuali al-Baqarah.

 

Ciri-ciri khusus pada surah Makkiyah yaitu:

1. Ayat-ayat maupun surat-suratnya itu sendiri pada umumnya pendek-pendek, ringkas tetapi memiliki makna mendalam.

2. Berisi dakwah menyangkut soal keimanan seperti tauhid, misi Rasul, hari kiamat, gambaran surga dan neraka dan kebangkitan dan balasan.

3. Meletakkan prinsip-prinsip umum tentang syari’ah dan akhlak.

 

Ciri-ciri surah Madaniyah:

1. Surah yang di dalamnya terdapat izin berperang atau menyebut soal peperangan dan menjelaskan hukum-hukumnya.

2. Surah yang didalamnya terdapat rincian hukum hadd, faraidh (pembagian harta pusaka), hukum sipil, hukum sosial, dan hukum antar negara.

3. Bantahan terhadap Ahli Kitab dan seruan agar mereka mau meninggalkan sikap berlebihan dalam mempertahankan agamanya.

 

Sementara ciri khususnya pada surah-surah Madaniyah adalah

1. Sebagian besar ayat-ayatnya panjang-panjang dan susunan kalimatnya mengenai soal-soal hukum bernada tenang.

2. Mengemukakan dalil-dalil dan pembuktian mengenai kebenaran agama islam secara rinci.

Nah, dari penjelasan di atas, teman-teman hari ini sedang tilawah di surah apa? Makkiyah atau Madaniyah? Dengan kita tahu ciri-ciri dari surah Makkiyah dan Madaniyah secara tidak langsung kita juga dibuat untuk mentadabburi Al-Qur’an. Kita jadi lebih tahu, bagaimana sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an.

 

Keutamaan Membaca Al Qur'an

Membaca satu huruf Al-Qur’an maka akan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan.

Keutamaan diatas tentu tidak asing bukan? Keutamaan tersebut berdasarkan hadist berikut " Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.” (Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 660).

Kita bisa bayangkan, diluar bulan ramadan saja dilipatgandakan satu huruf nya dengan 10 kebaikan. Bagaimana di bulan suci dimana Al-Qur’an itu diturunkan? Tentu, akan semakin berlipat

Setiap kali bertambah kuantitas bacaan, bertambah pula ganjaran pahala dari Allah. Keutamaan ini berdasarkan hadist berikut “Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:  “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” ( HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab ShahihAlJami’,no.6468).

Membaca Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat.

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya”  (HR. Muslim).

Membaca Al-Qur’an akan mendatangkan kebaikan

“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala”  (HR. Muslim).

Dan masih banyak segudang keutamaan lainnya. Dari keutamaan di atas semoga memotivasi kita untuk senantiasa membaca Al-Qur’an terutama di bulan Ramadan ini.

 

Tips mengkhatamkan Al-Quran pada bulan Ramadan

1. Niat

Tentu, ini sangat penting. Karena dengan niat yang optimal, niat karena Allah. Meminta kepada Allah agar Ramadan kita selalu dihiasi dengan membaca Al-Qur’an maka kita secara sadar akan menghindar dari segala penghalang dan godaan dalam mengkhatamkan Al-Qur’an.

 

2. Tentukan target

Target setiap dari kita berbeda ada yang mau satu bulan khatam 3x ada yang khatam 2x atau minimal khatam 1x. maka dari target itu kita sudah menyiapkan planning untuk satu hari membaca berapa juz atau berapa lembar Al-Qur’an. saya ambil contoh 1x khatam, maka membaca Al-Qur’an perhari nya setelah sholat fardhu 2 halaman. Dengan begitu, target dapat diselesaikan dengan sesuai dan mudah.

 

3. Buat Ramadan Planner

Membuat Ramadan Planner akan membantu kita untuk membagi waktu antara ibadah harian lainnya dengan membaca Al-Qur’an. karena dengan membuat Ramadan Planner teman-teman bisa lebih disiplin dan teratur dalam menjalankan ibadah harian selama Ramadan.

 

4. Jauhi hal-hal yang membuat kita tidak fokus membaca Al-Qur’an.

Ketika sudah bersama Al-Qur’an maka kita harus menyiapkan fisik dan konsentrasi sepenuhnya untuk fokus membaca Al-Qur’an. kalau lelah, maka ambil istirahat dengan tidur sejenak atau membaca buku. Saya sarankan untuk menjauhi HP dulu ( karena sering membuat lalai loh!! ) sementara waktu, kita tahan dulu, sampai target membaca Al-Qur’an hari itu terpenuhi.

Nah, itu sedikit tips dari saya bagaimana cara mengkhatamkan Al-Qur'an. Kira-kira teman" punya strategi tersendiri untuk mengkhatamankan Al-Qur'an?

No comments:

Post a Comment

Notulensi DI: "Memulai Karya Lewat Menulis"

  Diskusi Introverted Room Memulai Karya Lewat Menulis Oleh: Indriyani Sabtu, 5 Juni 2021         Profil Narasumber: Indri...